Kamis, 29 Maret 2012

Menuju Tugas Akhir. (Setoran Part 1)

Jam menunjukkan 13.50 WIB ketika ku pulang dari kampus. Cuaca terik, matahari masih bersinar panas, seolah membakar apapun yang terkenar sinarnya. Beberapa hari ini memang cuaca lagi cerah-cerahnya, setelah berminggu-minggu daerah Malang dan sekitarnya diguyur hujan. Meski tidak deras, hujan yang tanpa henti itu mengakibatkan beberapa daerah banjir, walau hanya setinggi mata kaki atau betis. Sebenarnya, mulai jam sepuluh pagi kuliah telah usai, hanya saja ku pengen menyetorkan hafalan ayatul  ahkam kepada Dosen Wali. Hafalan yang berjumlah 40 ayat dan 40 hadits itu sebagai syarat untuk bisa mengikuti ujian komprehensif; ujian yang diadakan sebelum ujian skripsi, yang mencakup semua mata kuliah dari semester satu hingga akhir. Masing-masing dosen wali mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menerima setoran dari mahasiswa. Ada yang harus setoran 40 ayat/hadits sekaligus, ada yang seminggu harus setor 10 ayat beserta maknanya, dan ada beberapa anak Hafidz (hafal al-Qur’an) yang hanya setor 1 ayat tapi langsung diluluskan. Namun karena saya tak terlalu kuat dalam menghafal, setoran pun sekenanya saja, pernah seminggu dapet 8 ayat, 2 hari nyetor 5 ayat, dst. Namun untuk kedepannya harus bisa seminggu 20 ayat, ini demi mengejar target bahwa bulan ini harus rampung semuanya, agar bisa mendaftar ujian komprehensif di awal bulan Mei.

Selasa, 20 Maret 2012

Kala Sore di Mergosono – Malang

Saat azan asar berkumandang, sahut-sahutan, karena banyaknya musholla dan langgar, terdengar suara khas yang membedakannya dari suara azan yang lain. Suara seorang anak yang dengan lantangnya mengajak orang-orang disekitarnya –yang sibuk dengan urusan duniawinya masing-masing- untuk rilex sebentar, mengistirahatkan saraf-saraf dan ototnya sejenak untuk menghadap kepadaNya. Saya yang sedari tadi mendengarkan panggilan suci dari rumah Bude (kakak dari ayah) tergerak tuk shalat berjamaah, namun bukan ditempat anak yang azan tadi, “di musholla yang dekat sajalah..” batin saya. Namun ketika hampir sampai di musholla yang dituju, pintunya masih tertutup dan tak ada seorang pun disana, hanya ada beberapa bapak-bapak yang sedang asyik ngobrol disamping musholla. “Ah, kenapa dari mereka gak ada yang azan? Apa karena keasyikan ngobrol jadi lupa waktu? Bukankah pahala azan itu besar, melebihi pahala imam shalat? Dan juga perbuatan yang mulia?” Ditengah pertanyaan batin yang masih belum jelas itu, terbesit pikiran “Mending saya datangi suara anak-anak yang azan tadi, yang sekarang ia asyik mendendangkan puji-pujian. Toh jika saya ingin azan dimusholla ini takkan bisa. Karena kunci pintunya pasti dibawa oleh takmir musholla.”

Sambil berlalu saya terus menyusuri jalan tapak demi setapak ketempat anak yang masih bersholawatan itu. Dari padatnya rumah-rumah penduduk, saya sisiri gang-gang yang ada. Cukup jauh memang. Ketika suaranya sudah terasa dekat –yang berarti mushollanya sudah didekat sini- ia menghentikan pujiannya, dan langsung Iqomah. Saya pun mempercepat langkah dan akhirnya sampai dimusholla itu. Tanpa pikir panjang saya langsung wudhu’ secepatnya karena takut ketinggalan rakaat pertama. Namun ketika masuk, ternyata shalat belum dimulai. Terdengar mereka saling berbisik, ada 3 anak disana. Ketika mendekat saya bertanya tentang siapa yang biasa jadi imam disini, khawatir jika ada ustadz/tokoh masyarakat disitu yang biasa dijadikan imam. Namun spontan salah satu anak menjawab “Jenengan mawon sing dadi imam (sampean saja yang jadi imam sholat)”ujarnya. Saya mbatin, “Jika tidak datang kesini berarti salah satu dari mereka yang akan mengimami shalat!?”. Dengan baju putih, sorban di leher, kopyah hitam, sarung yang dipakai serta wajah lugu mereka, terlihat masih kelas 4/5 SD. Kepribadian mereka yang telah sudi mengorbankan waktu bermain dengan azan dan shalat berjamaah inilah yang saya kagumkan. Mereka tidak menunggu diperintah untuk shalat berjamaah oleh orangtuanya, meskipun terkadang malah yang nyuruh itu tidak ikutan shalat berjamaah. Mereka telah membangun prinsip dari awal, bahwa ini kewajiban. Sehingga tanpa ada paksaan atau perintah mereka harus tetap menjalankannya. Apalagi se-umuran mereka masih takut-takutnya jika diancam dengan siksa neraka. Sehingga ada niat untuk selalu berbuat kebaikan demi memperoleh surga. Entah jika dibandingkan dengan orang mukallaf di abad ini...

Gang 3b, 18 Maret 2012

Kamis, 15 Maret 2012

“GUS JAKFAR” ____Cerpen Karya GUS MUS

Gus Mus ketika mengisi ceramah di Ponpes Sabilurrosyad, Malang.
Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.
"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya kok anaknya lebih tua dari beliau itu."
"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja beliau melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat gak, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?'. Lho, tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya."

Senin, 12 Maret 2012

Research of Calligraphy

Kaligrafer SeRe
 Senang rasanya bisa berkumpul dengan teman sehobi, berbagi pengalaman dan informasi. Sudah lama rasanya tidak merasakan semangat untuk berkarya, mangekspresikan diri dalam lukisan dan tulisan. Dengan bertemu dan sharing dengan teman senior diharapkan energi  semangat mereka dapat menular, menembus saraf-saraf otak dan hati sanubari, agar karya yang dihasilkan pun bukan hanya indah dipandang mata namun juga dapat menyejukkan hati.