Senin, 12 Maret 2012

Research of Calligraphy

Kaligrafer SeRe
 Senang rasanya bisa berkumpul dengan teman sehobi, berbagi pengalaman dan informasi. Sudah lama rasanya tidak merasakan semangat untuk berkarya, mangekspresikan diri dalam lukisan dan tulisan. Dengan bertemu dan sharing dengan teman senior diharapkan energi  semangat mereka dapat menular, menembus saraf-saraf otak dan hati sanubari, agar karya yang dihasilkan pun bukan hanya indah dipandang mata namun juga dapat menyejukkan hati.

Kemarin, (11/3) bersama teman-teman kaligrafi UKM Seni Religius kami mengunjungi salah satu sanggar kaligrafi di Malang, tepatnya ±20 meter didepan Masjid Agung Baiturrahman Kepanjen. Berangkat dari depan kampus UIN Maliki pukul 08.40 WIB dan sampai pada 09.50 WIB. Disana kami telah dinanti oleh Mas Ali Murtadlo (Pengasuh Sanggar Tangan Kaki)dan empat orang anak didiknya, Eko, Lilis, Luthfi (co.)dan Luthfi (ce.) Nama Sanggar “Tangan Kaki” sendiri diberikan oleh Ust. Bambang yang bermakna agar Tangan selalu menulis dan Kaki selalu melangkah dalam kebaikan. Sebenarnya yang ikut berlatih disanggar itu banyak , namun karena kebanyakan masih SMA/Aliyah kelas 3 yang akan UAS, sehingga yang hadir hanya 4 orang. Setelah saling menyapa dan memasuki ruangan, kesan pertama yang timbul adalah rasa kagum melihat hasil karya yang penuh dengan aneka ragam bentuk dan dimensi warna. Mulai dari yang berbentuk segitiga, persegi panjang, dan hasil latihan Mushaf dan dekorasi untuk persiapan lomba. Yang baru bagi kami adalah karya mushaf diatas kain, yang pembuatannya sudah lama namun masih terlihat bagus dan rapi. Ornamen dan hiasannya juga seperti batik yang dicetak. Tak tampak kalau itu sebenarnya adalah perpaduan cat Mowilex dan lem Rajawali, sehingga tetap apik meskipun telah lama disimpan.
Hiasan Mushaf diatas kain
Karya Pesanan


Hiasan Dekorasi














Selamat Datang















 Setelah pembukaan, sambutan-sambutan dan sekilas penjelasan mengenai sanggar tersebut, kami pun bertanya tentang metode yang digunakan. “Disini saya tidak menyeragamkan bentuk latihan, artinya saya akan memberikan tugas sesuai dengan kemampuan mereka. Ini untuk menghindari saling meniru demi meningkatkan kepekaan dan daya saing mereka dalam berkarya” tegas mas Ali. Pada awal latihan, biasanya mereka membuat garis, lengkungan, titik, dan menulis huruf hijaiyah menggunakan satu pensil, terutama untuk khot Naskhi. Ketika dirasa sudah lancar dan ingin mempelajari khot lain seperti Tsulus, Diwani, Riq’i dan lainnya, mereka diperbolehkan menjiplak atau menggunakan dua pensil yang ukurannya disesuaikan dengan handam yang akan dipakai. Yang terpenting dalam seni kaligrafi adalah ketekunan atau istiqomah dalam latihan, terus berusaha menciptakan karya terbaik, tentunya didukung metode yang tepat pula. Lingkungan juga harus mendukung, sering berkumpul dengan para kaligrafer juga dapat memicu semangat untuk berkreasi.

Banyaknya macam-macam khot mengharuskan seseorang untuk tidak sekedar meniru apa yang ada dibuku namun harus didukung berguru kepada para ahli. Dengan berguru kita akan mengetahui kesalahan dan kekurangan dalam penulisan. Untuk wilayah Malang sendiri ada beberapa al-khottot yang dapat dijadikan acuan, yaitu Ust. Misbahul Munir, Ust. Bambang, Ust. Hadi dan lain-lain. Masing-masing mempunyai ciri khas yang berbeda, jika Ust. Misbah lebih menekankan dalam penulisan kaidah khot, Ust. Bambang lebih pada seni mewarnai karena memang background beliau adalah pelukis. Berbeda dengan Ust. Hadi, beliau lebih senang mengajarkan kaligrafi kontemporer dan sebagai motivator kaligrafi yang mengerti seluk-beluk hingga filosofi yang terkandung dari sebuah simbol atau huruf.

Di akhir pertemuan Mas Ali menambahkan, untuk pembuatan hiasan Mushaf dan Dekorasi dalam perlombaan diusahakan menyadur dari karya master Turki atau Mesir, agar karya yang dihasilkan mempunyai nilai lebih dibandingkan jika membuat sendiri. Karena memang budaya kaligrafi datang dari Jazirah Arabiah, sehingga mau tidak mau kita harus mengikuti arus perkembangannya, meskipun tak dipungkiri akan ada jenis-jenis yang baru seiring berjalannya waktu .
Foto bareng Mas Ali dan anak didiknya

Demikian sekilas perjalanan Rihlah Ilmiyah kami, semoga tetap berlanjut di sanggar kaligrafi lainnya. Tunggu kedatangan kami... (^_^)

Narsisme sebelum kembali ke Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

waktunya berdiskusi